Kuda Lumping, Kesenian Tradisional Yang Tetap Eksis
Subekti.Com – Kuda lumping juga populer disebut sebagai Jaran Kepang atau Jathilan. Kesenian kuda lumping masih sangat populer bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya meskipun diserang badai kesenian modern. Setiap pertunjukan selalu dipadati penonton. Serasa ada magnet tersendiri yang membuat Jathilan tetap menarik untuk ditonton.
Kesenian ini melibatkan banyak sekali anggota dari pemain Jathilan sendiri, pemain gamelan dan juga pawang Jathilan itu sendiri. Di beberapa tempat Jathilan ditontonkan tidak hanya di siang hari, bahkan di malam hari. Satu hal yang menarik adalah adanya suasana mistis selama pertunjukan berlangsung sehingga tidak jarang beberapa penonton ikut ‘kesurupan’ (dimasuki ruh kuda lumping).
Setiap babak yang ditampilkan memiliki cerita dan makna yang bisa dipelajari oleh penonton. Cerita yang ditampilkan terkadang berbeda antara kelompok Jathilan yang satu dan yang lain. Khusus alunan gemelan yang ditabuh antara satu kelompok Jathilan dengan yang lain juga terdapat perbedaan, namun ada suara gamelan khas yang hampir sama sebagai tanda pertunjukan kesenian Jathilan. Untuk menarik penonton, alat musik gamelan sudah banyak dimodifikasi dengan menggunakan alat musik modern. Lagu-lagu yang dinyanyikan juga kebanyakan lagu-lagu populer saat ini, khususnya lagu-lagu Jawa.
Saya mengajak pembaca Subekti.Com untuk melihat foto-foto koleksi kesenian kuda lumping dari Cangkringan Sleman yang tampil di Kaliurang (21/4/2013). Foto-foto ini hasil jepretan kamera sendiri saat jalan-jalan ke Kaliurang. Setiap minggu pengunjung di Kaliurang disuguhi dengan kesenian tradisional di panggung terbuka dekat terminal Kaliurang.
1. Permulaan pertunjukan Jathilan
© 2013, Subekti.Com. All rights reserved.





