Isu Negatif Sarjana Menganggur

Oleh Nanang B Subekti. Pertumbuhan dunia kerja tidaklah selalu sepadan dengan jumlah lulusan produktif kerja, termasuk sarjana. Mari kita cermati bersama, di Indonesia ini ada berapa kampus dan berapa kali mereka mengadakan wisuda. Sebagai orang jogja, saya akan mangambil contoh sebagai berikut. Di Jogja ada lebih dari 100 PTS plus beberapa PTN besar seperti UGM, UNY, ISI dan UIN. Jika semua kampus tersebut mewisuda sarjana sebanyak 2 kali dalam setahun dengan sekali wisuda bisa ratusan sampai ribuan, berarti setiap tahun bisa ribuan sarjana dihasilkan. Ini baru dari satu propinsi saja. Bagaimana dengan propinsi atau kota lain yang lain yang juga memiliki banyak kampus seperti Jakarta.

Dalam pemikiran saya, sangat wajar jika banyak sarjana tidak kebagian lahan pekerjaan. Hal ini ibaratnya setiap tahun kampus menghasilkan sarjana, tetapi lahan pekerjaan tidaklah selalu bertambah dengan pesat. Analogi ini bisa kita ibaratkan dengan setiap hari produksi motor atau mobil dihasilkan dan dibeli orang namun pertambahan sarana jalan raya tidakah sepesat pertembuhan kendaraan bermotor. Dampak nyata dari jumlah sarjana yang melimpah adalah persaingan kerja semakin ketat dan akhirnya banyak yang tidak tertampung sehingga tidak bekerja alias menganggur.

Saya memprediksi jika diwaktu yang akan datang (5-10 tahun lagi), jumlah sarjana akan semakin melimpah, dimana sarjana bukan lagi sebuah titel yang bergensi lagi (apalagi S1). Namun hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah semoga isu banyaknya sarjana menganggur tidak menyurutkan semangat untuk belajar di perguruan tinggi. Justru dengan kuliah, mahasiswa akan semakin pandai dalam menyiapkan hidupnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan yang baik, mahasiswa akan mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Salah satu hal yang sangat penting untuk dicari solusinya adalah bagaimana membuat mahasiswa memiliki jiwa mandiri sehingga mereka memiliki orientasi bekerja sendiri daripada mencari pekerjaan. Contohnya adalah bagaiamana membuat ilmu yang mereka pelajari di kampus bisa diberdayakan di masyarakat. Hal ini  perlu segera dipikirkan mengingat jumlah lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah sarjana, sementara setiap sarjana memerlukan sarana untuk hidup. Di sisi lain, perlu juga menyadarkan mahasiswa untuk peka dengan kondisi lapangan yang semakin sengit. Pola pikir mahasiswa perlu diubah dari ‘pencari kerja’ ke ‘pencipta lapangan kerja’.

Salam Pendidikan.

 

Hotline Subekti.Com

Untuk informasi pemasangan iklan, perijinan penggunaan artikel, kerjasama, pengiriman artikel, dan pelayanan pelatihan blogging, silakan hubungi kami melalui Telp / SMS di 0838 4098 2002 atau melalui email:grahabelajar@gmail.com 

Terima kasih

© 2012, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

5 Responses to Isu Negatif Sarjana Menganggur

  1. firdaus dejar says:

    Memburu uang negara, menjadi PNS memang enak setiap tahun dipikirkan oleh pemerintah kesejahteraanya, tunjangannya, pelatihannya, jabatannya, apalagi adanya moment politik setiap saat, menjadikannya lahan empuk. Mereka mungkin tidak sadar kalau yg diberikan itu adalah uang negara dimana seluruh rakyat menyatukan dananya disitu, melalui yg namanya pajak. Setelah status PNS digenggam, kemudian pikiran pengabdian dipinggirkan yg hadir bagaimana menumpuk harta .

  2. Univ. Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta bekerjasama dengan Dirjen DIKTI mempersembahkan workshop untuk mahasiswa dan Pelatihan untuk Dosen dalam Inovasi dan Kewirausahaan Sinergi BIG (Business Intellectual Goverment). Acara tersebut terbuka untuk mahasiswa se-DIY dan sekitarnya dengan kuota 1000 mahasiswa dan bersifat GRATIS. Sedangkan untuk Pelatihan Dosen disediakan kuota 200 orang yang juga bersifat GRATIS (tidak dipungut biaya). Info selengkapnya di http://sinergibigustjogja.wordpress.com/

  3. antwar says:

    sy s1 baru lulus daftar cpns di setneg 2012 pesaing 1200 orang cuman di ambil 5 biji…

  4. red says:

    abis kebanyakan sarjana maunya PNS saja dan pegawai swasta tidak ada mau untuk berwirausaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 7+3=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Pentingkah RPP dalam Pembelajaran Kita?

Oleh Heriyanto Nurcahyo (Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi). Blog:http://theguru216.wordpress.com/). Ada diskusi sangat menarik di sebuah Forum Guru Republik Indonesia beberapa...

Close