Masih Relevankah Pepatah “Malu Bertanya Sesat di Jalan”?

Oleh Nanang B Subekti. Sebagai orang Indonesia, tentu saja pepatah “malu bertanya sesat di jalan” bukanlah sebuah ungkapan asing ditelinga kita. Namun satu hal yang menarik adalah masih relevankah pepatah tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini? Menurut saya, pepatah tersebut masih relevan, namun perlu ada catatan tersendiri untuk pemakaiannya.

Di era modern dengan kemajuan teknologi yang pesat, manusia dengan mudah bisa mendapatkan informasi melalui  internet. Dengan memasukan kata kunci dalam kotak pencarian search engine, maka dalam hitungan detik akan muncul jutaan informasi yang kita cari. Selanjutnya kita tidak memilih mana yang relevan. Melalui contoh ini manusia dituntut untuk aktif dan tidak malas ketika mencari tahu sesuatu hal. Banyak media yang bisa dimanfaatkan. Jika terpaksa harus bertanya ke orang lain, bertanyalah sesutu yang berkualitas.  Hargailah waktu yang dimiliki orang lain. Jangan sampaikan pertanyaan ‘bodoh’ yang sebenarnya kita sendiri bisa mendapatkan informasi tersebut dengan mudah. Atau galilah informasi sendiri terlebih dahulu baru bertanya ke orang lain untuk melakukan klarifikasi pemahaman.

Pelajaran tersebut di atas adalah hasil kesimpulan perjalanana hidup saya selama lebih dari 6 tahun hidup di Australia. Mengapa saya harus mandiri? Kemandirianlah yang membuat saya menjadi tahu dan akhirnya mengetahui banyak hal. Kemandirianlah yang memaksa saya harus untuk terus belajar. Kemandirianlah yang membuat saya tenang dan merdeka dari ketergantungan terhadap orang lain. Kemandirianlah yang membuat saya percaya diri dengan diri saya sendiri dan tentunya membuat orang di kanan kiri saya merasa nyaman dengan kehadiran saya. Berikut contoh-contoh mahalnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan orang lain:

  • Pada tahun 2005 saya datang ke sebuah toko alat tulis dan bertanya jasa penjilidan. Petugas tersebut menjawab jika toko tersebut tidak menerima jasa penjilidan, namun menyediakan mesin yang bisa kita pakai. Dengan tegas dan jelas, petugas memberi tahu saya untuk mengoperasikan mesinnya. Dia memberi tahu jika diatas mesin sudah ada petunjuknya, silakan ikuti saja instruksi yang ada. Akhirnya saya pelan-pelan mengikuti petunjuk penjilidannya. Saya baru sadar jika ongkos penjilidan sebuah buku atau tugas akhir sangat mahal. Untuk sebuah thesis, ongkos penjilidannya lebih dari $30 dolar. Saya baru sadar jika saya meminta toko tersebut untuk menjilidkan tugas mata kuliah saya, pasti akan kena charge mahal.
  • Pada tahun 2010, saya memiliki mobil yang rusak. Ketika saya bawa ke bengkel biaya investigasi masalah sekira $100 per jam, dan itu tergantung dari berapa lama dia harus mencari tahu masalahnya. Akhirnya saya putuskan untuk mencari tahu lewat internet, dan akhirnya saya mendapati tidak hanya saya yang memiliki mobil rusak dengan kasus serupa. Akhirya saya ke wrecker (pusat mobil rosokan) untuk ambil spare part computer injectionya. Saya mengeluarkan ongkos $180 untuk membeli perangkat komputer untuk injection mobil saya jauh lebih murah dibanding harus membeli baru seharga $600, plus ditambah biaya perbaikan per jam $100.
  • Pada suatu hari laptop saya rusak. Ketika saya bertanya ke mechanic, biaya jasanya per jam $75. Akhirnya saya berburu informasi ke internet dan mendapati banyak orang dengan problem serupa di BIOS laptop tersebut. Akhirnya saya ikuti petunjuk forum tersebut, dan laptop saya nyala kembali. Tidak ada biaya sepersepun keluar.
  • Selama hampir 6 tahun tinggal di Australia, ketika saya jalan-jalan baik dalam satu state ataupun antar state seperti Melbourne dan Sydney, tidak pernah terbesit kata takut. Semua petunjuk jalan sangat jelas dan memuat saya mandiri dan tidak perlu bertanya. Di pandu dengan smartphone yang terkonek dengan GPS, saya mengetahui dengan persis posisi saya dan wilayah disekitar saya.
  • Dengan latar belakang IT yang pas-pasan, saya ingin membuat blog.  Secara perlahan saya belajar bagaimana membuat blog. Secara teratur saya mengalokasikan waktu untuk belajar melalui internet. Akhirnya, saya bisa membuat blog dan mengelola blog saya sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.

Contoh-contoh di atas tentu sangat berbeda dengan kondisi di tanah air di mana tenaga sangat murah sehingga menjadikan orang menjadi malas untuk menjadi mandiri. Sekali ada kerusakan dengan barang, biaya yang dikeluarkan juga relatif murah.  Di samping itu, insfrastruktur di Indonesia tidak mendidik manusia menjadi mandiri, misalnya miskinnya rambu-rambu jalan raya,  miskinya informasi di tempat publik bahkan jika ada informasi di tempat umum tidaklah akurat dan terkadang membingungkan. Dalam konteks Indonesia, ketika di jalan raya orang tidak bertanya pasti akan tersesat beneran karena memang miskin rambu lalu lintas apalagi mengedari kendaraan di pinggiran.

Dari contoh di atas,  mari kita berpikir mandiri ketika menghadapi masalah. ‘Pepatah malu bertanya sesat di jalan” masih sangat relevan, namun yang perlu dibenahi adalah kepada siapa kita harus bertanya? Sebagai manusia, saya merasakan diri saya selalu sibuk dengan rutinitas harian. Akhirnya, saya juga memposisikan orang lain juga sibuk dan waktu mereka sangatlah berharga. Ketika saya akan bertanya ke mereka, saya akan bertanya secukupnya saja dengan pertanyaan yang berkualitas. Selanjutnya saya akan habis-habisan memanfaatkan teknologi untuk membantu menyelesaikan masalah saya, karena teknologi tidak pernah mengeluh dan tidak akan pernah membenci diri saya ketika saya ceriwis dengan berbagai masalah meskipun cuma sederhana? Hal ini berbeda dengan manusia yang memiliki pikiran, rasa dan emosi di mana semua bisa berakibat tidak baik terhadap pertemanan.

Akhir kata, saya menjadikan diri saya self-regulated learner yang memaksa saya untuk bertanggung jawab dengan apa yang tidak saya ketahui. Self-regulated learning adalah sebuah model pembelajaran yang perlu digalakan untuk siswa-siswa di Indonesia sehingga mereka bisa mengelola proses belajar mereka  sendiri dengan baik untuk menjadi pembelajar yang mandiri (autonomous learner).

Hotline Subekti.Com

Untuk informasi pemasangan iklan, perijinan penggunaan artikel, kerjasama, pengiriman artikel, dan pelayanan pelatihan blogging, silakan hubungi kami melalui Telp / SMS di 0838 4098 2002 atau melalui email:grahabelajar@gmail.com 

Terima kasih

© 2012, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

One Response to Masih Relevankah Pepatah “Malu Bertanya Sesat di Jalan”?

  1. firdaus dejar says:

    sebagai orang indonesia, merasa apa yg tertulis diatas sungguh bisa menjadi semangat untuk melangkah maju meraih cita-cita dan sangat pantas dibaca bagi para pelajar yg mau maju, tanpa merepotkan dan cnderung menyalahkan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 7+3=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Menikmati Gemerlapnya Kota Melbourne

Oleh Nanang B Subekti. Kota Melbourne Australia bukanlah sebuah kota asing di telinga orang Indonesia. Kemegahan kota tersebut sering terdengar...

Close