Jer Basuki Mawa Beya

Oleh Nanang B Subekti. Tidak ada suatu kesuksesan yang datang tanpa disertai dengan sebuah pengorbanan atau usaha sebelumnya. Begitulah makna secara tidak langsung dari sebuah falsafah jawa ‘jer basuki mawa beya’. Menurut kamus basa Jawa (versi bahasa Inggris) karya Peter Suwarno (1999) ‘Dictionary of Javanese Provers and Idiomatic Expressions’,  ’Jer’ artinya in order to; ‘basuki’ artinya prosperous, healthy; ‘mawa’ artinya to need, to require; beya artinya cost, expense, money. Dalam kamus tersebut ‘jer basuki mawa beya’ diterjemahkan sebagai  ‘achieving a goal requires money, effort, and sacrifice’.

Sebagai orang Jawa, saya sangat akrab betul dengan falsafah di atas. Falsafah itulah yang membuat diri saya menjadi manusia yang ‘sabar’ terhadap semua proses kehidupan yang harus dijalani. Senada dengan falsafah Jawa di atas, agama saya juga mengajarkan untuk tetap ‘ikhtiar’ untuk mencari misteri ‘qada‘ dan ‘qadar’ yang telah digariskan oleh yang maha kuasa. Memang perjalanan hidup ini sudah digariskan oleh yang maha kuasa, tetapi manusia tetaplah memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Contohnya, apakah kita akan mendapatkan nilai baik di sekolah ketika kita tidak pernah datang kuliah / pelajaran, mengerjakan PR, dan mempelajari semua materi yang diberikan oleh guru? Apakah cukup dengan berdoa semua akan selesai? Untuk mendapatkan nilai yang bagus tetaplah kita harus melakukan usaha atau iktiar dengan sungguh-sungguh, setelah itulah kita baru menyerahkan semua urusan kepada Ilahi Robi.

Tulisan ini saya buat bukan tanpa suatu sebab musabab. Dalam perjalanan ke kampus hari (Senin 28 Mei 2012), saya bertemu dengan seorang teman dari eropa yang mengeluhkan dengan tingginya tuntutan kualitas dari tugas yang harus diembanya. Tidaklah jarang pekerjaan yang dikumpulkan ke dosen selalu mendapat tanggapan tidak bagus. Sepintas saya menangkap sinyal ‘frustasi’ dari diri teman saya tersebut.

Sebagai seorang sahabat dan sesama mahasiswa asing, sudah sewajarnyalah kami saling membantu. Diskusi yang panjang tentang lika-liku kuliah di Australia pun terasa berlalu begitu cepat. Tidak jarang saya mendengar ungkapan-ungkapan ketidakberdayaan teman tersebut.

Akhirnya tibalah saatnya bagi saya untuk bercerita tentang lika-liku perjalanan studi saya. Saya mengawali dengan sebuah cerita jika pengalaman studi saya tidak jauh berbeda dengan dia. Dengan sabar saya berusaha melampui setiap step yang telah ditentukan oleh dosen. Tidak jarang saya menemuai jalan terjal dan berliku. Saya pun tidak boleh menyerah, karena itulah proses untuk mencapai hasil akhir. Ajaran hidup yang saya milikilah yang membuat saya tetap tegar untuk melalui setiap cobaan dan beban belajar. Ajaran hiduplah yang membuat diri saya menikmati setiap langkah yang harus saya lalui meskipun terasa pedih dan menyakitkan. Dari situlah saya berharap untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

Ketika saya bercerita bagaimana saya memulai studi Doktor saya, dia pun tersentak kaget mendengar semua usaha yang saya lakukan. Sepintas saya menangkap sinyal jika usaha dia untuk belajar jauh lebih kecil daripada apa yang telah saya lakukan. Dari situlah, kami berdua akhirnya sama-sama saling belajar, saling membantu dan berbagi cerita setiap langkah yang telah kami kerjakan. Latar belakang budaya yang berbeda dan pemahaman makna hidup yang berbeda membuat kita tumbuh menjadi manusia yang akan selalu berbeda antara satu sama lain. Namun lepas dari semua perbedaan yang nampak, setiap manusia pasti memiliki tujuan yang sama yaitu ‘sukses’ dalam hidupnya.

Kesimpulan dari catatan saya hari ini adalah banyak jalan terjal menghadang di depan mata yang siap menjadi duri dan rintangan untuk meraih kesuksesan. Namun, semua kembali ke diri kita masing-masing untuk melihat seberapa kuat kita melampui  dan bertahan dari setiap godaan dan cobaan yang akan muncul. Semakin kuat kita menghadapi cobaan, Insya Allah semakin dekat kita dengan ‘kesuksesan’ dan sebaliknya semakin lemah diri kita untuk bertahan dari godaan dan cobaan, semakin jauh diri kita dari ‘kesuksean’.  Ingat ‘jer basuki mawa beya’!. Semoga Tuhan mengabulkan semua impian kita. Amin ya robal ‘alamin.

© 2012, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

4 Responses to Jer Basuki Mawa Beya

  1. icai says:

    top ulasannya

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Belajar dan informasi: salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir di blog ini.

      Nanang B Subekti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 6+1=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Hati-hati Janji Manis Lembaga Pendidikan

Oleh Nanang Bagus Subekti. Iklan apapun pasti disiapkan untuk menarik simpati dari konsumen. Hal ini termasuk iklan yang disiapkan oleh...

Close