Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris

Penulis Tamu Subekti.Com

Oleh Muhammad Adib Abdushomad (http://adib-gja.com)

Diantara berbagai mata pelajaran yang dianggap menjadi kendala atau hantu bagi sebagian siswa adalah  matematika, fisika dan kimia. Begitupula bahasa Inggris di era zaman saya waktu SMP akhir tahun 80-an dan awal 90-an termasuk mata pelajaran yang dianggap momok atau sulit saat itu. Namun, melalui sedikit lived experience saya menyatakan bahwa   kunci keberhasilan mempelajari bahasa Inggris sebagaimana mata pelajaran yang dianggap sulit lainnya adalah dengan mencintainya terlebih dahulu. Bagaimana hal ini bisa terjadi berikut adalah elaborasi singkat berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Ketika masuk SMP tahun 1989, saya merasakan bahwa dorongan untuk mengetahui bahasa Inggris sangatlah kuat saat masih Madrasah Ibtidaiyyah (setingkat SD), waktu itu di kampung saya ada seorang Bule yang datang mengunjungi desa kami. Satu-satunya yang dianggap dapat berbicara bahasa Inggris adalah salah satu pegawai kantoran yang berada di desa kami. Diajakalah si Bule itu ke rumah pegawai tersebut yang tidak jauh dari rumah saya. Sangat ramai saat itu, rasa senang melihat orang yang berbeda kulit, bahasa dimana selama ini hanya dlihat di TVRI saat itu, tiba-tiba ada di depan mata. Diantara kerumunan orang-orang tersebut, saya beranikan diri untuk sekedar menyapa kata-kata basic yang familiar untuk berkenalan dalam bahasa Inggris’ What is your name? Terhadap pertanyaan ini rupa-rupanya sang Bule merespon dengan baik, bahkan ngomong panjang lebar yang tentu saja saya ndak begitu paham. Namun diantara komennya yang terasa masih kuat dan saya ingat adalah dia memberikan pujian bahwa bahasa Inggris saya bagus, katanya.

Sejak itulah  saya merasa terdorong dan menunggu masa SMP, dimana katanya akan ada pelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, mungkin bagi teman-teman lain bisa jadi bahasa Inggris menjadi momok, tapi tidak bagi saya karena memang sedang saya nantikan untuk mendapatkan pencerahan ilmu ini. Saat itu guru bahasa Inggris saya mengajarkan bahasa Inggris dengan model menghafalkan, menulis dan kemampuan mengucapkan yang pas (pronunciation). Setiap siswa diwajibkan membawa buku saku kecil, Pak Nur (nama guru bahasa Inggris saya), mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris, lalu murid diminta untuk menulisnya. Sehari sebelumnya beliau sudah mengatakan agar membaca bacaan terkait dan memperkaya bacaan di perpustakaan.

Karena diilhami dengan rasa cinta alias senang, apa yang menjadi saran guru tersebut saya lakukan dan tak pelak saya tidak banyak mengalami kerepotan, dari sepupuh yang dibacakan, paling satu atau terkadang dua kata saya salah penulisan dan termasuk yang terbaik di kelas. Pak Nur, bahkan memberikan recognition dengan memuji saya dan menyemangati saya.   Lama-lama saya semakin senang, akhirnya ketika menginjak penjelasan grammer, reading, listening  dan materi lainnya sayaenjoy saja dan bahasa Inggris menyumbang nilai yang sangat memuaskan di rapor saya.

Oleh karena itu, bagi saya semuanya bermula dari rasa cinta, suka dan penasaran adalah modal saya bisa cukup bagus di bidang bahasa Inggris, bahkan materi yang dianggap momok lainnya sebagaimana saya sebut di muka. Memunculkan hasrat senang atau cinta terhadap mata pelajaran tertentu sangatlah penting. Implikasinya sesulit apapun itu rumus, atas dasar cinta akan kita uraikan dan cari jalan keluarnya. Modal internal suka atau cinta terhadap mata pelajaran ini kemudian gayung bersambut dengan guru yang care dan supportif  guru terhadap muridnya inilah ingredient yang saya rasakan. Sepertinya mau “terbang ke langit” ketika  guru memuji saya di depan kelas saat saya berhasil memberikan contoh rumus yang terbaru tapi pas dan cepat. Sempat saya di diskualifikasi tidak boleh maju di depan karena seringnya saya inisiatif memberikan contoh ketika guru mem-floor-kan ke kelas ” Ayo siapa yang bisa? Ketika saya mengacungkan jari, maka guru tersebut justru bilang, sudah-sudah buat kamu,  ayo yang lainnya saja.

Dengan demikian ada dua factor kunci sukses dalam belajar, yang pertama adalah internal motivation. Motivasi kuat dalam diri siswa, bukan karena dibujuk  dari orang tua atau karena akan diberi hadiah. Ia semata-mata dorongan yang bernilai kepuasan pribadi yang tidak dapat dimaterikan. Untuk memunculkan internal motivation ini, boleh jadi perlu rekayasa social atau sifatnya “dadakan” seperti sejarah yang telah saya jelaskan di muka yaitu ketemu bule, lalu kepingin sekali tahu bahasa Inggris. Yang dadakan tentu sifatnya subyektif, yang dapat dilakukan adalah creating space that enables creativity to emerge, mengitup bahasa Prof. John Halsey (guru besar education di Flinders University)  yaitu perlunya dibuat mekanisme yang memungkinkan kreatifitas itu akan muncul.

Tentu kalau dalam konteks sekolah, maka kepala sekolah besarta para gurunya memiliki peran strategis dengan back  policy dari pemerintah untuk menciptakan environment yang dapat menumbuhkan cinta terhadap bahasa Inggris dan mata pelajaran lainnya yang dianggap momok. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mendatangkan langsung si Bule di kelas, mendatangkan orang yang sukses belajar bahasa Inggris, dan upaya-upaya lainnya dalam rangka mensitumulasi tumbuhnyainternal motivation.

Yang kedua adalah dengan pendekatan eksternal motivation. Cara ini berbeda yang pertama, lebih memperkuat factor yang berada di luar siswa yang bersangkutan. Akan tetapi juga akan berpengaruh terhadap tumbuhnya motivasi belajar.  Memberi hadiah, dan bentuk lomba-lomba lainnya adalah salah satu dari upaya supaya siswa lebih bersemangat untuk belajar bahasa Inggris. Melengkapi sarana dan pra-sarana juga demikian adanya. Namun, demikian motivasi dalam diri siswa sangatlah menentukkan untuk masuk dan tidak ilmu ke dalam otak siswa. Kenyataan ini akan lebih dahsyat jika diimbangi dengan sarana dan pra-sarana yang memadai pula. Kombinasi antar keduanya merupakan resep sukses belajar, setidaknya menurut pengalaman saya. Tugas pemerintah adalah membuat rekayasa social yang halus (tidak sekedar undang-undang) agar minat siswa terhadap pelajaran yang sulit-sulit ini muncul. Memang sayang sekali kita rupa-rupanya tidak bisa berharap penuh dengan pemerintah yang justeru sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, politik dan kekuasaan. Terhadap individu-individu yang mau ikhlas beramal, saya sangat apresiatif sebagaimana langkah yang dilakukan Prof. Johanes Surya yang ingin membuat Image pelajaran alam seperti Fisika dan Matematika misalnya menjadi pelajaran yang tidaklah menakutkan. Semoga akan semakin banyak orang-orang yang seperti itu, jangan berhenti menunggu lakukanlah sesuatu.

© 2012, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 0+10=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Memahami Teks Berbahasa Inggris

Penulis Tamu Subekti.Com Oleh Hapsari Dwi Kartika (http://www.facebook.com/hdk.sarie) atau Email: hdk_sarie@yahoo.com Ingin sedikit berbagi tentang pengalaman saya belajar di Australia. Alhamdulillah...

Close