Pilih Nikah atau Kerja Dulu?

oleh Nanang B Subekti, 15 Maret 2012. Tulisan ini berangkat dari sebuah pertemuan dengan seseorang pada tahun 1999-nan. Beliau termasuk orang  yang sukses dalam berkarir dan menjaring pundi-pundi kehidupan. Namun disisi lain, beliau menyesal dengan kebahagiaan hidup yang diterimanya.

Pada waktu itu saya masih menjadi seorang mahasiswa dan bekerja sebagi tutor bahasa Inggris di Jogja. Salah satu peserta kursus,  sebut saja namanya Pak Satrio, adalah seorang pegawai dengan usia kira-kira 45 tahun. Sambil menunggu waktu masuk, kami menyempatkan ngobrol ke sana kemari tentang berbagi isu di Indonesia. Salah satu isu menarik untuk dibahas adalah usia. Ketika sedang haangat bahas usia, Pak Satro tiba-tiba bertanya, ” berapa usia Anda?’  Saya menjawab: “20 tahun Pak”. Ada apa Pak?. Kemudian Pak Satrio berkomentar, segera menikah jangan seperti saya, saat ini usia saya sudah 45 tahun tetapi anak saya yang besar baru  berumur 3 tahun “. Jangan lama-lama Mas”, beliau berpesan dengan penuh semangat.

Ucapan Pak Satrio mengundang penasaran yang luar biasa bagi saya. Akhirnya saya pun berpikir mengapa harus segera menikah? Bagaimana dengan pekerjaan? Inilah hasil pemikiran saya tentang menikah dan bekerja pada waktu itu.

Alasan pertama Pak Satrio menyuruh saya menikah karena hitungan metematis. Belajar dari kasus beliau yang menikah di usia 40 tahun dan baru memiliki dikarunia momongan pertama diusia 42 tahun. Beliau berpikir tugas orang tua mendidik anak-anak sampai tuntas.  Pemikiran beliau cukup masuk akal juga, bagaimana kalau Pak Satrio lahir anak ke-2 pasti umurnya dia atas 45.  Nah, secara matematis masuk akal jika dihubungkan antara usia Pak Satrio dan anak-anaknya. Lihat ilustrasi dibawah ini:

Pak Satrio mempunyai anak pertama  pada umur 42 tahun. Anak  tersebut akan masuk SD saat  berumur 6 tahun, berarti usia Pak  Satrio 48 tahun. Ketika anak lulus SD  dengan usia 12 tahun, maka usia Pak Satrio pada saat yang bersamaan 54 tahun. Selanjutnya ketika anak lulus SMP  dengan usia 15 tahun, maka usia Pak Satrio 57 tahun. Dan ketika anak lulus SMA dengan usia 18 tahun, maka usia Pak  Satrio 60 tahun…… 

Belajar dari kasus di atas maka penilaian saya adalah kehidupan Pak Satrio lumayan menyedihkan karena anak pertama lulus SMA saat beliau usia 60 tahun.  Mungkin Anda bisa bayangkan anak pertama lulus SMA saat usia orang tua 60 tahun. Dengan usia segitu, kalau bekerja di Indonesia  rata-rata sudah menjelang usia pensiun. Hal yang menarik dari kasus Pak Satrio adalah ilustrasi di atas baru menggambarkan anak Pak Satrio yang nomor 1, belum yang nomor 2.

Jujur alasan Pak Satrio memacu saya realistis. Begitu saya lulus kuliah saya pun segera berencana berumah tangga. Saya pun berandai-andai pada saat itu. Namun kenyataanya, saya memiliki anak saat berusia 25 tahun. Nah berikut ini ilustrasi anak saya yang pertama:

Anak  pertama saya lahir ketika usia saya 25 tahun. Anak saya masuk TK dengan umur 6 tahun anak  maka saya berumur 31 tahun. Anak saya lulus SD  dengan usia 12 tahun, maka saya berumur kira-kira 37 tahun. Anak saya lulus SMP dengan usia 15 tahun, saya berumur 40 tahun. Anak saya lulus SMA dengan usia 18 tahun saya berumur 43 tahun. 

Dengan mudah Anda bisa bandingkan cerita saya dengan Pak Satrio, tentu berbeda. Menikah menjadi hal yang perlu dipikirkan masak-masak jika sudah berhubungan dengan usia dan anak-anak.  Namun ilustrasi di atas tidak dimaksudkan untuk mengajak Anda menikah cepat-cepat. Kesiapan setiap orang berbeda-beda.

Bagaimana dengan pekerjaan? Karena saya memilik rencana menikah di usia muda, maka saya menjalani rutinitas kuliah dengan penuh semangat  khususnya untuk segera lulus dan mencari pekerjaan.  Secara umum ada pekerjaan yang memang saya bisa lakukan pada waktu itu.  Prinsip hidup saya adalah selama kita mau ulet maka pekerjaan pasti akan datang. Selain itu, jangan lupa untuk terus berdoa ke Sang Pencipta.

Namun, perlu diakui juga jika kondisi pekerjaan di Indonesia saat ini sangatlah sulit. Persaingan hidup semakin berat.  Bagi saya, sebaiknya generasi muda janganlah mengandalkan diri menjadi pencari kerja, syukur-syukur bisa menciptakan pekerjaan sendiri. Pengalaman dari kondisi Indonesia yang serba sulit maka penataan rencana kehidupan yang baik mutlak diperlukan supaya ada kerangka hidup yang pasti.

Selain sisi logis pertimbangan menikah karena usia, saya juga berpikir dari sisi religi di mana pernikahan mendatangkan berkah dan rezeki. Kelahiran anak juga membawa berkah dan rezeki bagi orang tuanya. Namun, semua itu tidak datang dengan serta merta. Harus ada ikhtiar atau usaha nyata. Tidak bermaksud menyombongkan diri, anak saya pertama saat mau lahir saya lolos beasiswa S2 ke Australia dan ketika anak saya ke-2 mau lahir saya lolos beasiswa S3 ke Australia. Semoga ini menjadi garis hidup bagi saya dan mampu menjaga amanat untuk sekolah sampai jenjang tertinggi dan berkontribusi positif untuk masyarakat luas.

Akhir kata, semoga cerita pendek ini bermanfaat!. Mau nikah atau kerja dulu? atau kerja dulu baru nikah? Selamat berpikir!!!! Sukses untuk Anda!!!

Hotline Subekti.Com

Untuk informasi pemasangan iklan, perijinan penggunaan artikel, kerjasama, pengiriman artikel, dan pelayanan pelatihan blogging, silakan hubungi kami melalui Telp / SMS di 0838 4098 2002 atau melalui email:grahabelajar@gmail.com 

Terima kasih

© 2012, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

7 Responses to Pilih Nikah atau Kerja Dulu?

  1. Naa says:

    Klo menurut q lebih baik kuliah n kerja dulu baru nikah, membahagiakan orang tua itu sangat dianjurkan dalam agama, selagi kita bekerja tetapi belum menikah tentu akan lebih mudah untuk membahagiakan mereka. Krna blum terbebani anak-anak,umur manusia ga ada yang tahu bisa saja kita meninggal muda, saat anak2 kita masih kecil, manusia hanya bisa berharap semoga di beri umur panjang

  2. herlinda saka says:

    kuliah dulu …. (S2)
    umur 29 nikah ….
    semangat ….

  3. nadera says:

    menurut ku alangkah baik nya umur 20-an digunakan u/ brkarya, membantu orang.. karena pertama tujuan hidup ku adalah membuat amalan jangka panjang…
    amalan yg nanti nya ikut membantu sesama.. peduli keadaan dan alam…
    mengenai menikah saya tidak menarget berapa kah umur pantas nya? tetapi saya menikah karena mampu finansial u/ anak-anak ku kelak.. mefasilitasi mereka dgn baik..
    maka saya akan mengurus anak bukan karena berapa umur ku, namun mengurus nya sesuai dgn kemampuan ku… lagipula di dunia ini banyak anak yatim piatu.. anak lemah ekonomi karena ortu… jadi saya lebih peduli kpd mereka drpd menikah karena
    wanti-wanti bagaimana mengurus anak….

    • Subekti.Com says:

      Nadera: terima kasih banyak sharingnya untuk melengkapi pemikiran tentang perencanaan kehidupan.

      Salam,
      Nanang B Subekti

  4. akhnurhadi says:

    Saya sangat setuju. Dengan menikah muda kita bisa lebih mematangkan rencana.

    Dan yg sangat setuju, menikah membuka pintu rejeki..

    • Subekti.Com says:

      Akhnurhadi: Terima kasih komentarnya. Semua kembali bagaimana kita memahami hidup ini dan bagaimana kita akan menata hidup kita ini. Lepas dari takdir Ilahi, alangkah baiknya kita tetap berupaya berkerja keras untuk mencapai hidup yang baik. Jadi kita harus hindari sifat menyerah dan kalah sebelum bertanding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 5+5=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Tak Bisa Berbicara Bukan Berarti Tak Berprestasi

Penulis Tamu (Guest Writer): Heriyanto Nurcahyo (http://theguru216.wordpress.com/) Rabu 14 Maret 2012- Undangan makan siang oleh Prof. Furuta dan Yamada Sensei...

Close