Biaya Hidup di Australia Semakin Tinggi

Oleh Nanang Bagus Subekti. Apakah Anda pernah berpikir untuk liburan, hidup atau sekolah di Australia? Semoga informasi ini bermanfaat bagi teman-teman yang akan ke Australia baik untuk keperluan studi maupun jalan-jalan.

Berdasar investigasi saya dengan membaca berbagai media masa, tidak sedikit yang membahas semakin mahalnya biaya hidup di Australia. Seperti dilaporkan oleh sebuah media online di Australia Sydney Herald Morning (14 Februari 2012) jika biaya hidup di Australia telah naik 2 kali lipat.  5 kota besar di Australia telah masuk dalam kategori kota yang mahal untuk ditempati, seperti Sydney masuk urutan 7 disusul oleh Melbourne no 8 dalam kategori 10 kota termahal di dunia. Sedangkan Perth masuk urutan 12, disusul Brisbane nomor 13 dan Adelaide nomor 17.

Pertama kali saya menginjakan kaki di Australia pada bulan Januari 2004. Berkat beasiswa ADS lah saya tanpa terduga bisa nyasar ke Australia untuk studi S2 de ngan tujuan kota Adelaide South Australia. Banyak hal yang saya dinikmati pada tahun 2004-2005 sehingga saya memutuskan untuk berjuang mencari beasiswa supaya bisa kembali ke Adeliade. Saya terkesan dengan murahnya biaya hidup di Adelaide dibandingkan dengan kota-kota besar di Australia. Hingga kini Adelaide masih termasuk kota paling murah di Australia, namun secara kenyataan biaya hidupnya juga terus merangkak naik dan semakin terasa berat.

Ketika saya bandingkan dengan tahun 2004 dan 2008 hingga 20012 ini, terdapat kenaikan harga yang sangat signifikan bahkan bisa dibilang naik 2 kali lipat lebih. Untuk rumah, pada tahun 2004 saya sewa flat dengan harga $80-100 per minggu sedangkan pada tahun ini sewa flat sudah 250-300 per minggu. Sewa rumah tentu lebih mahal, kira-kira 350-400 per minggu. Harga bensin pada tahun 2004 sekitar 80 cent sekarang sudah $1.50 per liter. Kenaikan juga sangat terasa untuk bahan makanan sehar-hari seperti beras, daging, dan buah-buahan. Pada tahun 2004 harga 1 kg sayap ayam hanya $1 sementara saat ini 2012 menjadi $3-4 per kg. Belum lagi untuk ongkos transportasi umum seperti tiket bis.

Hampir 6 tahun saya dan keluarga tinggal di Adelaide, tentu kami juga melakukan perjalanan ke kota-kota lain seperti Melbourne dan Syndey. Perjalanan terakhir saya lakukan ke Sidney ketika mengikuti summer course di University of New South Wales (UNSW) pada tahun 2009. Berdasar informasi dari teman-teman, harga sewa unit (flat)  pada saat itu sudah $350 per week. Sungguh luar biasa mahalnya untuk ukuran kantong mahasiswa.

Sedangkan untuk melbourne, informasi terbaru saya dapatkan dari teman yang pada hari Sabtu 18 Februari 2012 jalan-jalan ke Melbourne dengan menyewa hotel di Melbourne dengan harga $130 per malam. Mahal sekali apalagi dikurskan dengan rupiah dengan ukuran kantong mahasiswa.

Dampak kenaikan biaya hidup bukanlah satu-satunya berita hangat untuk para pelajar dari Indonesia khususnya. Biaya lain yang menjadi perhatian adalah mahalnya biaya SPP untuk kuliah. Untuk mahasiswa yang tidak mendapat sponsor beasiswa, mereka harus membayar SPP per semester dengan jumlah bervariasi, namun secara umum untuk ilmu sosial rata-rata antara $10.000 (sepuluh ribu) – 12.000 (dua belas ribu) per semeseter (per 6 bulan) dan ilmu-ilmu eksak rata-rata di atas $ 13.000 (tiga belas ribu)  per semester. Silahkan dikonversikan dengan rupiah jika 1$AUD = Rp. 9500 pasti akan ditemukan deretan angka yang fantastis.

Tinggal di Australia terasa sangat berat bagi mahasiswa yang membawa  serta keluarganya. Namun, mahasiswa bisa sedikit bernapas lega karena pemerintah Australia memberikan kesempatan 20 jam per minggu untuk mahasiswa bisa bekerja. Meski dapat kesempatan kerja 20 jam per minggu, namun beberapa mahasiswa tidak bisa memanfaatkan jam tersebut dengan baik untuk bekerja karena padatnya kegiatan kampus. Pengamatan saya menujukan jika rata-rata mahasiswa hanya kerja beberapa jam seperti cleaning dan gardening, bahkan tidak sedikit yang tidak bekerja sama sekali karena tidak bisa meninggalkan kegiatan kampus. Sebagai tambahan informasi, khusus mahasiswa pasca sarjana tingkata S2 dan S3 spousenya bisa kerja full time. Hal inilah yang membuat dapur bisa terus ngebul dan survive di perantauan disamping  mengandalkan hidup dari kucuran dana beasiswa yang relatif hanya cukup untuk kebutuhan sehar-hari.

Sebagai informasi, saat ini saya membayar flat  $240 per minggu (termasuk murah karena termasuk listrik gas, telp, dan internet) dan biaya makan, bensin dan lain-lain kira-kira $1000 per bulan. Jadi untuk keluarga rata-rata di Adelaide kami dan teman-teman bisa menghabiskan $2000 per bulan. Jumlah yang fantastis dalam Rupiah tetapi bukan dalam Dollar.

Untuk memberikan gambaran nyata harga-harga di Australia, silahkan klik link di bawah ini:

1. Dick Smith (Retailer barang elektronik): Link 

2. Harvey Norman (Retailer barang elektronik): Link

3. Gumtree (Situs jual beli barang-sewa unit/flat): Link

4. Trading Post (Situs jual beli mobil): Link

5. Carsales (Situs jual beli mobil): Link

6. Domain (Sewa properti: beli dan sewa tempat tinggal): Link

7. Woolworths (Supermarket belanja kebutuhan rumah tangga seperti  makanan): Link

8. BIG W (Supermarket kebutuhan rumah tangga): Link

9. Coles (Supermarket kebutuhan rumah tangga): Link 

10. Ezyreg (Situs informasi regristasi mobil untuk South Australi): Link

Apakah Anda masih tertarik untuk  datang ke Australia?

 

© 2012 – 2013, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

51 Responses to Biaya Hidup di Australia Semakin Tinggi

  1. nita says:

    Salam kenal Pak Nanang
    Postingan nya sangat menarik. Pak kalau boleh tahu apakah istri Bapak di sana juga bekerja ? kira2 pekerjaan apa ya yg bisa dilakukan oleh seorang istri yang mendampingi suaminya tugas belajar ?

    Terima kasih sebelumnya

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Benar Mbak Nita, istri saya bekerja. Jujur saja untuk keluarga beasiswa sangat pas. Kalau istri bekerja, semoga roda perekonomian rumah tangga semakin kokoh. Jenis pekerjaan bervariasi dari cleaning, kebun, sampai pabrik.

  2. aan supriadi says:

    Assalamualaikum,
    Salam kenal Pak Subekti, Istri saya rencananya akan ambil Master Pendidikan di Australia. Kalau tidak dapat beasiswa rencananya akan diusahakan dengan biaya sendiri. Saya butuh info biaya sekolah utk anak2. Anak saya tiga orang, yg paling besar baru akan tamat SD, yg tengah baru akan masuk SD, dan yg terkecil umur 3 tahun. Berapa kira-kira besarnya biaya yg harus saya siapkan, kalau ketiga anak saya ini ikut ke australia. Saya juga akan ikut dengan status dependent visa.
    Kemungkinan saya akan pilih Adelaide karena sepertinya living cost nya paling murah dibandingkan kota besar di australia yg lainnya.

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Walaikum salam wr.wb Mas Aan Supriadi.

      Terima kasih untuk komentarnya. Salam kenal. Mungkin jawaban saya agak terlalu pribadi, silakan kirimkan ke e-mail saya untuk berbagi informasi lebih lengkap ke nanang_bs@yahoo.com

      Salam kenal (Nanang).

  3. Resiyandhi says:

    Ass, mas subekti..
    Salam kenal. Saya ada niat mneruskan kuliah saya di Australia, flinders khususnya. Saya sdh cukup lama mnimbang2 flinders dan monash. Kmarin ketika saya ke pameran IDP, sy lgsg ke meja Flinders. Lalu ketika saya mngutarakan interest sy utk ambil PhD di bid.pendidikan (saya guru b.inggris di sbuah sma,jakarta), mereka lgsg menyarankan sy utk mncari tau ttg nama anda. Stlh saya melihat website anda, sprtinya anda org yg tepat yg bs saya jdikan tmpat bertanya. Smg sy bs mngikuti jejak anda, mas.

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Walaikum salam Mas Resiyandhi. Amin semoga sukses Mas, bisa mabil PhD. Senang bisa berkenalan dengan Anda.

      Nanang

  4. Rhininta says:

    bagus sekali infonya,, sangat membantu
    mas suami saya warga negara australia, tapi dia sejak lahir sudah tinggal di Indonesia
    tahun 2010 lalu dia sempat pulang ke australia dan mencari pekerjaan, ttpi krn sulit dia kembai lagi ke Indonesia
    karena sekarang kami sudah mempunyai anak, kami berencana untuk pindah ke australia, menurut pendapat mas, bagaimana jika saya dan anak saya ikut suami pindah ke australia sedangkan suami saya belum mendapat pekerjaan.
    apakah kehidupan saya akan dijamin pemerintah ??

    Mohon infonya

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Salam Mbak Rhininta,

      Menurut saya mencari pekerjaan di Australia tidak susah, karena kami mahasiswa dan spouse bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Kesulitan akan terjadi ketika kita sudah mulai pilih-pilih pekerjaan, jika asal pekerjaan tidaklah sulit. Recana akan tinggal di State mana?

      Kalau suami warga negara Australia, mungkin bisa menguruskan support pemerintah melalui Centre Link. Kantor ini memang untuk mengurusi support untuk warga Australia yang memerlukan. Coba di Google Centre Link.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 0+7=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Memilih Sekolah Yang Terbaik Bagi Anak Kita

Oleh Nanang B Subekti (Adelaide - 18 Februari 2012). Hampir setiap orang tua pasti mengingikan anak-anaknya memenuhi semua harapannya, seperti...

Close