Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia

Oleh Nanang Bagus Subekti  (30 September 2011). Tanggal 27-29 September 2011 menjadi tanggal yang tidak akan pernah saya lupakan. Pada tanggal tersebut saya dan rombongan dari jurusan bahasa Indonesia di kampus Flinders University Adelaide South Australia yang terdiri staf pengajar, mahasiswa lokal yang belajar bahasa Indonesia dan beberapa mahasiswa asal Indonesia melakukan kunjungan ke sebuah sekolah di wilayah Kingscote  (Kangaroo Island). Satu hal yang paling menarik adalah sekolah tersebut mangajarkan bahasa Indonesia. Tentu sebagai warga Indonesia saya merasa bangga sekali.

Perjalanan kami awali dari Adelaide ke arah selatan menuju pelabuhan penyeberangan dengan waktu tempuh kira-kira 1.5 jam. Selanjutnya penyeberangan dengan ferry 45 menit. Perjalanan dari pelabuhan ke daerah tujuan (Kingscote) kira-kira 1.5 jam. Saya dan rombongan sangat bahagia sekali menikmati pemandangan alam yang begitu alami. Kangaroo Island sendiri yang memiliki wilayah lebih besar daripada pulau Bali dan hanya dihuni  oleh kira-kira 4000 orang. Hampir sepanjang perjalanan 100 km ke arah tujuan hanya menemukan hutan (bush) dan hampir tidak ada penduduk. Penduduk hanya terdapat di wilayah-wilayah tertentu.

Catatan saya yang paling menarik dari pengajaran bahasa Indonesia adalah suasana belajar yang relatif santai dan menyenangkan. Memang pengajaran bahasa Indonesia bersifat pilihan jadi tidak masuk dalam daftar ujian nasional. Untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa Indonesia, berbagai pernak-pernik asal Indonesia pun diboyong ke Australia, seperti becak.

Ketika saya  masuk ke ruangan kelas dan bercakap-cakap dengan para siswa, saya melihat rasa ingin tahu yang tinggi oleh para siswa terhadap Indonesia. Berbagai pertanyaan tentang Indonesiapun dilontarkan ke saya.

Hampir sebagian besar guru bahasa Indonesia di Australia pernah berkunjung dan belajar bahasa Indonesia di tanah air. Mereka adalah orang yang sangat cinta terhadap tanah air kita. Ketika saya menemui salah satu guru bahasa Indonesia, beliau membeli banyak sekali pernak-pernik Indonesia, seperti baju batik.  Sang guru dengan semangat terus bercerita jika ia sangat cinta dengan Indonesia.

Layaknya mata pelajaran umumnya, maka  pengajaran bahasa Indonesiapun memiliki tujuan. Sejak di sekolah dasar, anak-anak Australia sudah diajarkan dengan berbagai bahasa asing, seperti Jepang, China dan bahasa Indonesia. Semua ini diberikan untuk menyiapkan generasi muda Australia memiliki kemampuan bahasa asing selain bahasa Inggris.

Mata pelajaran bahasa Indonesia di Australia akhir-akhir ini mendapat tekanan yang berat. Peminat bahasa Indonesia mengalami penurunan yang tajam baik di tingkat sekolah umum ataupun perguruan tinggi. Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya adalah situasi politik di Indonesia (khususnya alasan keamanan) yang menjadikan banyak orang Australia mempertimbangkan kembali untuk belajar bahasa Indonesia. Contohnya: sampai saat ini pemerintah Australia masih memberlakukan travel warning atas kunjungan warganya ke Indonesia sehingga kunjungan ke Indonesia relatif sulit apalagi untuk anak-anak sekolah. Di sisi lain orang tua anak dan mahasiswa juga sangat kawatir jika sanak famili mereka akan berkunjung dan tinggal Indonesia untuk sementara waktu. Berbagai cerita tentang bom dan terorisme menjadikan suasana semakin buruk. Berikut saya kutip beberapa informasinya dari website resmi Department of Foreign Affairs and Trade Pemerintan Australia: http://www.smartraveller.gov.au/zw-cgi/view/advice/indonesia

This advice has been reviewed and reissued. It includes new information under Safety and Security: Terrorism (suicide attack on church in Solo) and Safety and Security: Civil Unrest/Political Tension (sectarian violence in Ambon). The overall level of the advice has not changed.

  • We advise you to reconsider your need to travel to Indonesia, including Bali, at this time due to the very high threat of terrorist attack.
  • If you do decide to travel to Indonesia, you should exercise great care, particularly around locations that have a low level of protective security and avoid places known to be possible terrorist targets. See the Terrorism section for details.
  • For informaiton on the Bali Commemorative Services in October 2011 please see our travel bulletin.
  • We continue to receive information which indicates that terrorists may be planning attacks in Indonesia, which could take place at any time.
  • Since early 2010, police have disrupted a number of terrorist groups in North Sumatra, Lampung, Banten, Jakarta and Central Java. Police continue to conduct operations against these groups. Police have stated publicly that terrorist suspects remain at large and that they may seek to attack Western targets.
  • We consider that terrorist attacks are more likely to focus on places where large numbers of Westerners gather, including, but not limited to, tourist areas in islands such as Bali, as well as Jakarta and other places in Indonesia. Attacks against Westerners in Bali and Jakarta indicate that these areas remain priority targets for terrorists.
  • Terrorists have previously attacked or planned to attack places where Westerners gather including nightclubs, bars, restaurants, hotels, airports and places of worship in Bali, Jakarta and elsewhere in Indonesia. These types of venues could be targeted again.
  • Judicial processes, including trials of extremists and the implementation of sentences, could prompt a strong reaction from their supporters such as demonstrations and acts of violence.
  • Australians should avoid all protests, demonstrations and rallies as they can turn violent.
  • Since July 2009, there has been a series of violent attacks near the Freeport Mine in Papua. One Australian has been killed in these attacks. There is a possibility of further attacks in the Papua Provinces, including attacks on infrastructure and national institutions.
  • We advise you to read carefully the sections on travel to West Java, Aceh, Central Sulawesi Province, Maluku, Papua and West Timor where additional safety risks exist.
  • Australian health authorities have detected a small number of cases of Legionnaires’ disease amongst travellers returning from the Kuta region of Bali. See our Travel Bulletin for further information.
  • There is a risk of rabies throughout Indonesia, in particular Bali and Nias. See the Health Issues section below for advice to Australians travelling to or resident in Indonesia.
  • You should telephone ahead for an appointment before going to the Australian Embassy (See Where to Get Help).
  • Because of the serious terrorist threat in Indonesia we strongly recommend that you register your travel and contact details with us so we can contact you in an emergency.

Dua kali saya menjadi pembicara konferensi di seminar guru-guru bahasa Indonesia (INTAN) di Adelaide, South Australia. Selama konferensi dibahas lika-liku dan tantangan pengajaran bahasa Indonesia. Secara ekplisit para guru mendapatkan tekanan yang berat akan keberlangsungan bahasa Indonesia, bahkan mungkin jurusan bahasa Indonesia akan ditutup jika sepi peminat.

Faktor lain yang kurang adalah minimnya dorongan dari pemerintah Indonesia sendiri terhadap pengajaran bahasa Indonesia di negara lain,  seperti pengadaan sources (sumber bahan ajar) juga minimnya bantuan untuk peningkatan pengajaran bahasa Indonesia di luar negeri.

Akhir kata saya simpulkan jika pengajaran bahasa Indonesia di Australia pernah mengalami masa kejayaan (mungkin sekitar tahun 80 an) di mana situasi Indonesia begitu kuat dan aman. Namun saat ini keberadaan pengajaran bahasa Indonesia di Australia mengalami tekanan yang cukup besar karena berbagai  kejadian di tanah air. Semoga ini menjadi perhatian kita semua untuk berusaha supaya bangsa lain tetap berminat mempelajari budaya Indonesia.

Hotline Subekti.Com

Untuk informasi pemasangan iklan, perijinan penggunaan artikel, kerjasama, pengiriman artikel, dan pelayanan pelatihan blogging, silakan hubungi kami melalui Telp / SMS di 0838 4098 2002 atau melalui email:grahabelajar@gmail.com 

Terima kasih

© 2011 – 2012, Subekti.Com. All rights reserved.

Comments

comments

6 Responses to Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia

  1. sally kharisma putri says:

    Halo Mas Nanang,

    Saya seketika kangen melihat kampus KINGSCOTE, Parndana, dan Penneshaw. Apakah Ibu Kris Hondow masih mengajar di sekolah itu?

    Kebetulan saya pernah mengunjungi sekolah itu. Senang sekali ada teman dari Indonesia mengunjungi sekolah itu.

    Salam Kenal…

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Hallo Mbak Sally. Senang mendengar kabar Anda pernah ke sana juga. Dalam rangka apa ke sana dulu? Berarti tulisan saya ini membangkitkan memori masa lalu ya…

      Oiya masih ada Bu Kris di sana. Saya sempat ketemu beliau. Malah beberapa bulan lalu Ibu Kris dan anak-anak main ke Flinders Uni belajar bahasa Indonesia. Saya bertemu beliau juga.

      Saya ada teman juga orang Australia yang mengajar di sana.

      Salam kenal juga.

  2. Keadaan ini sangat memprihatinkan. saya sendiri pun sekarang sangat malas untuk mengikuti perkembangan politik di negeri sendiri. Yang jelas saat ini yang difokuskan masih mengurusi pendidikan dalam negeri yang masih semrawut apalagi politik yg makin kacau.. Semoga keadaan ini segera berakhir dan menjadi lbh baik lg dihari2 yg akan datang dengan adanya kepedulian pemerintah yang makin meluas dibidang pendidikan.. amiiin..

  3. Terima kasih untuk blog yang menarik

  4. Muhibbin Syah says:

    Simpulan sederhananya, jika Bahasa Indonesia ingin diminati oleh banyak pelajar dan mahasiswa asing (khususnya Australia), maka: 1) pemerintah kita harus menjamin keamanan nasional,; 2) para politisi kita harus berpolitik tidak hanya secara santun tetapi juga secara jujur dan jantan sesuai dengan kaidah demokrasi yg universal, misalnya kalau seorang politisi kalah ia harus mengakui kekalahannya sambil turut menyambut kemenangan rivalnya.

    • Nanang Bagus Subekti says:

      Pak Muhibbin Syah: terima kasih banyak Pak. Memang program ini harus mendapatkan dukungan kuat dari Pemerintah RI selaku pemilik bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 1+7=?

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Read previous post:
Proyek pembodohan dalam bungkus “Program Orientasi Kampus”

Program Orientasi Kampus atau yang lebih sering dikenal dengan OSPEK  selalu mengundang dilema. Dari beberapa obrolan dengan orang tua mahasiswa...

Close